Goliat Tabuni Belum Bisa Dihubungi
Jayapura -
Situasi keamanan di Kabupaten Puncak Jaya memanas lagi. Hanya dalam
waktu 1 jam, 8 prajurit TNI AD tewas ditembak mati kelompok
bersenjata yang diduga sayap militer OPM, Kamis 21/2i di Distrik
Tingginambut Kabupaten Puncak Jaya dan Distrik Sinak Kabupaten Puncak.
Peristiwa itu hanya berselang satu jam, di Tingginambut sekitar pukul
09.30 WIT dan di Sinak 10.30 WIT
Juru Bicara Kodam 17 Cenderawasih
Letkol Jansen Simanjutak saat ditemui wartawan di ruang kerjanya
membenarkan peristiwa penembakan di Tingginambut dan Sinak. “Untuk yang
Tingginambut, Pos TNI yang diserang, 2 anggota tertembak dan satu dian
taranya tewas. Sedangkan yang di Sinak aksi penghadangan, yang
menewaskan empat prajurit tewas,”tandasnya.
Aksi penyerangan Pos TNI Tingginambut lebih dulu terjadi, sejam
kemudian baru peristiwa penghadangan di Sinak. “Peristiwa penyerangan
Pos TNI Tingginambut lebih dulu terjadi, baru kemudian aksi penghadangan
di Sinak,”terangnya.
Untuk aksi penyerangan di Tingginambut,
lanjutnya, 2 orang tertembak. “Yang tertembak di Pos Tingginambut Lettu
Reza, dia tertembak di lengan, sedangkan Pratu Wahyu Wibowo tertembak
didada dan tewas ditempat,”jelasnya.
Aksi penghadangan di Distrik
Sinak menewaskan 7 prajurit. “7 anggota itu dari Markas Koramil Sinak
hendak menuju Lapangan Terbang yang jaraknya 3 KM. Tujuan mereka mau
ambil peralatan komunikasi yang dikirim dari Kodim 1714, lalu dihadang
di tanjakan jalan, dengan cara ditembaki dari atas bukit,”terangnya.
Dari
12 prajurit yang berjalan 7 prajurit tertembak dan tewas ditempat.
“Tujuh anggota yang tewas Sertu M udin, Sertu Frans anggota Koramil
Sinak dan Sertu Ramadhan serta Pratu Mustofa, Pratu Edi, Praka Jojo
Wiharjo, Praka Wempi anggota Yonif 753 AVT Nabire,”terangnya.
Dalam
aksi penyerangan di Pos TNI Di Tingginambuta, Jansen Simanjuntak juga
mengakui, ada warga 2 sipil yang tertembak. “Benar, ada 2 warga sipil
tertembak saat anggota membalas aksi penyerangan, kondisi mereka belum
bisa dipastikan,”imbuhnya.
Sampai saat ini aksi penembakan di kedua tempat masih berlangsung. “Anggota lain masih mengejar para pelaku,”jelasnya.
Mengenai
kelompok pelaku dan motif penyerangan serta penghadangan, Simanjutak
belum bisa memastikan. “Mereka masih dikejar, jadi kami belum bisa
simpulkan dari kelompok mana,”ujarnya.
Terkait jumlah kekuatan
kelompok penyerang, sambungnya, kemungkinan cukup besar dan berani.
“Mereka memiliki kekuatan besar sehingga berani beraksi,” ketusnya.
Ditanya
apakah akan ada penambahan pasukan, Jansen mengatakan tidak akan ada.
“Kami masih konsentrasi mengevakuasi para korban dari sana, dan tidak
akan ada penambahan pasukan,”imbuhnya.
Juru bicara Polda Papua Kombes
I Gede Sumerta Jaya mengakui adanya aksi penyerangan dan penghadangan
di dua tempat diwilayah Pegunungan Papua. “Dari laporan yang kami
terima, Pos TNI dari batalyon Infantri 753 AVT Nabire yang jaraknya
berdekatan dengan Pos Brimob, diserang kelompok bersenjata, akibat 2
anggota pos tertembak, satunya gugur,”ungkap Sumerta Jaya.
Dikatakan,
laporan penembakan ini berawal ketika terjadi kontak senjata antara
OTK dan Anggota Pos Yon 753 di Distrik Tingginambut di dekat Pos
Brimob dan Pos Yon 753, yang akibatkan 1 orang anggota TNI an
Pratu Prabowo gugur.
Detail kronologis, tukasnya, kejadian sekitar
pukul 09.00 WIT terdengar suara tembakan dekat Pos Brimob dan Pos Yon
753 yang mana tembakan OTK mengarah ke Pos Yon 753 sehingga anggota
Pos Yon 753 membalas mengeluarkan tembakan yang akibatnya 1 anggota Pos
Yon 753 terkena tembakan an Pratu Prabowo dan korban diperkirakan gugur
dalam kontak. Selanjutnya anggota TNI, anggota Brimob dan anggota Polres
Puncak Jaya dipimpin Wakapolres Puncak Jaya Kompol Ir.Hanafiah
melakukan back up ke Pos Tingginambut.
“Keberadaan Pos Yon 753 di Tingginambut adalah dalam rangka menunjang tugas-tugas Kepolisian,” tutur dia.
Goliat
Sementara
itu, Goliath Tabuni yang November tahun lalu dikukuhkan sebagai
Panglima tertinggi OPM, selama ini diketahui bermarkas di Gunung Lima
Jari Tingginambut. Namun, pasca peristiwa penghadangan yang menewaskan 8
prajurit TNI, sang panglima belum bisa dihubungi.
Telepon
selulernya beberapa kali dihubungi tapi tidak aktif bahkan hingga malam
hari. Padahal tahun lalu beberapa saat setelah penyerangan Polsek Pirime
di Kabupaten Lanny Jaya, saat dikonfirmasi, Goliat Tabuni bersedia,
dan langsung mengklaim tidak bertanggung jawab atas peristiwa itu.
Menyikapi
aksi penyerangan dan penghadangan itu Imparsial Lembaga Swadaya
Masyarakat Pemerhati Hak Azasi Manusia menyesalkan terjadinya peristiwa
itu. “Kami menyesalkan telah terjadinya penembakan di Tingginambut dan
Sinak yang diduga dilakukan kelompok OPM,’’ujar DIrektur Eksekutif
Imparsial Poengki Indarti melalui pesan singkatnya.
Peristiwa
penyerangan dan penghadangan itu, menewaskan 8 prajurit TNI dan sangat
memprihatinkan karena terjadi disaat kabupaten Puncak sedang menggelar
Pemilukada bupati dan wakil bupati yang tahapannya perhitungan suara. .
“Imparsial hanya menyerukan kepada masing-masing pihak baik itu aparat
keamanan maupun kelompok bersenjata untuk sama-sama menahan diri dan
tidak melakukan kekerasan balasan, karena yang rugi adalah masyarakat
Papua,’’ ucapnya.
Menghindari korban kembali berjatuhan,
Imparsial mendesak Presiden SBY segera membuka ruang dialog
Papua-Jakarta guna menuntaskan segala persoalan yang ada di Papua.
‘’Dialog Damai adalah cara paling tepat mengakhiri kekerasan di Papua
secara bermartabat,’’imbuhnya.
Sementara jenazah delapan parjurit
TNI yang tewas menurut rencana akan dievakuasi menuju markas Kodam 17
Cenderawasih, Jumat 22 Febuari. ‘’Heli kami sudah terbang ke Puncak, dan
mudah-mudahan cuaca bagu, sehingga proses evakuasi besok pagi (JUmat
22/2) hari ini bisa berlangsung lancer,’’tuturnya.
Jasad delapan
prajurit yang gugur sebelum diterbangkan ke tempat kelaurganya
masing-masing, akan lebih dulu digelar upacara pelepasan di Markas
Kodam. ‘’Upacara pelepasan akan dilakukan di Markas
Kodam,’’singkatnya.(jir/mdc/don/l03)