Selasa, 15 Januari 2013

KNPB Desak Pelopor Khusus PBB ke Papua

Wim R Medlama (kaca mata)JAYAPURA  -  Kelompok yang menamakan diri Komite Nasional Papua Barat ( KNPB) melalui juru bicaranya, Wim. R. Medlama mengungkapkan  sesuai jadwal yang ditetapkan, pelopor khusus PBB Frank La Rue akan mengunjungi Papua, tanggal 15 hingga 26 Januari 2013.  Sesuai rencana kunjungan pelopor khusus PBB itu akan melakukan kunjungan kerjanya selama 10 hari di Indonesia.
Adapun maksud kedatangan Pelopor khusus PBB itu ke Indonesia  sebenarnya sudah dijadwalkan sejak 2012 lalu, namun hal itu tidak dapat dilakukan dan pada 2013 ini kunjungan itu baru akan dilakukan.  “ Khususnya mengunjungi Papua,  sehubungan dengan isu- isu dan kondisi Papua saat ini bagaimana rakyat di Papua memperjuangkan kemerdekaannya itu seperti apa,” ujar Wim. R. Medlama dalam jumpa persnya di Prima Garden Abepura, Selasa( 15/1).
Wim mengatakan,  maksud dan tujuan Frank La Rue datang ke Papua adalah melihat isu- isu yang berkembang,  namun pihaknya sangat kesal dengan tindakan pemerintah indonesia yang melarang pelopor khusus PBB Frank La Rue itu datang ke Papua.  “ Kami KNPB dan rakyat Papua sangat kesal sekali dengan kejadian ini, sehingga kami minta kepada pemerintah indonesia untuk membuka akses agar pelopor khusus PBB yang akan berkunjung ke Papua dapat melakukan kunjungan tersebut,  terutama maksud kedatangannya untuk melihat kondisi  terakhir tahanan politik, Filep Karma dan beberapa Tapol  Napol yang ada di Papua,” katanya.
Lebih lanjut Wim mengatakan,  pihaknya dari KNPB menghimbau kepada seluruh rakyat bangsa Papua Barat, khusunya di Papua, jangan mudah terprovokasi dengan  Pilgub yang sedang berjalan ini karena KNPB melihat Pilgub  rawan konflik berangkat dari pengalaman pilgub dari beberapa daerah di Papua  seperti Tolikara, Sorong, Puncak Ilaga yang sempat  terjadi bentrokan karena ada kepentingan orang tertentu, sementara rakyat yang tidak tahu menahu yang turut jadi korban.
Wim Medlama menilai, pilgub yang digelar adalah kepentingan segelintir orang, kepentingan elit elite tertentu Papua. “Untuk itu kami himbau kepada semua rakyat  Papua untuk tenangkan diri, untuk kemudian kami bisa melihat kondisi ini,” ucapnya.
Kami juga menghimbau beberapa poin penting, bahwa rakyat Papua, pemerintah Indonesia yang melakukan aktifitas di atas tanah ini sejak pepera tahun 1969 itu, belum  sah rakyat  Papua itu dalam masuk dalam bingkai NKRI atau mau merdeka sendiri , inikan belum ada tanda jelas, jadi tanah ini adalah tanah yang  bermasalah. “Maka kami beriketegasan kepada pemerintah pusat melalui pemerintah yang mengendalikan pemerintahan  yang mengendalikan roda pemerintahan di daerah ini untuk tidak memprovokasi rakyat, biarkan rakyat menentukan nasibnya sendiri karena tidak bisa kita libatkan kepentingan mereka untuk menghambur hamburkan uang, karena ideologi papua itu tidak bisa dibeli dengan uang sehinga pilgub yang sedang berjalan ini, kemudian kami meminta kepada kandidat jangan membawa kepentingan elit elit  untuk melakukan konflik diantara kandidat satu dengan lainnya,”katanya.
Tambahnya, “ Sekali lagi kami himbau kepada rakyat Papua untuk tenang dan kami juga meminta kepada pemerintah pusat bahwa tanah Papua ini tanah yang bermasalah,  oleh sebab itu kami meminta untuk meninjau keberadaan tanah Papua,” ujar Medlama. (Ven/don/l03)

Minggu, 13 Januari 2013

Penembakan di Mulia Pelaku Pakai Senjata Laras Pendek


Jum'at, 11 Januari 2013 23:07

Tito Carnavian 


















JAYAPURA - Pelaku penembakan terhadap anggota TNI dan warga sipil di Mulia Puncak Jaya Papua,  Kamis 10 Januari,  menggunakan senjata api laras pendek. Hal itu terungkap setelah Polisi melakukan olah TKP dan meminta keterangan sejumlah saksi.
“Pelaku penembakan satu orang dan menggunakan senjata api laras pendek namun jenisnya belum diketahui secara pasti,’’ujar Kapolda Papua Irjen Pol Tito Carnavian kepada wartawan, Jumat 11 Januari.
  Kepastian pelaku menggunakan senjata laras pendek, kata Kapolda, dari hasil olah TKP. “Keterangan sejumlah saksi yang sudah kami mintai keterangan, pelaku bukan pakai senjata laras panjang,’’ujarnya.
Meski pelaku penembakan satu orang, namun tidak menutup kemungkinan ada pelaku lain yang tugasnya melakukan pemantauan. “Memang kesimpulan sementara, pelakunya tunggal, tapi bisa saja ada temannya yang mengawasi dan memberikan informasi, ini juga yang masih kami dalami,’’tukasnya.  
     Kata dia,  pasca penembakan tersebut,    Polres  Puncak Jaya  telah melakukan Olah TKP. Kemudian membantu korban  termasuk memberikan donor darah untuk  korban yang  kritis. “Kami  rencana  mengirim Tim  ke Mulia untuk melaksanakan Olah TKP  lanjutan, melakukan  penyelidikan serta identifikasi  terhadap kelompok  sipil  bersenjata  atau tersangka  yang diduga  melakukan aksi  penembakan tersebut,” kata  dia.
Sejauhmana  keterlibatan kelompok sipil  bersenjata  tertentu  setelah  dilakukan   identifikasi, lanjutnya,    pihaknya  sudah mendapat   informasi, sebetulnya  ada beberapa  kelompok  yang selama satu dekade ini  terus-menerus melakukan  aksi  penembakan dan kekerasan  di  Puncak Jaya. 
“Jadi  kita tinggal memetakan kelompok sipil   bersenjata  mana  yang paling  mungkin  melakukan tindakan itu baik  dari segi kemungkinan  motif, kemudian kemungkinan ciri- ciri pelaku, kemudian  jenis senjata   yang digunakan kita  sudah mengarah kepada satu kelompok tertentu. Tinggal kita  melakukan pendalaman   kepada kelompok ini,” kata dia.
Apakah kelompok Goliath Tabuni?  Semua  kemungkinan  bisa  saja  terjadi. Tapi dari pemeriksaan sementara pelaku penembakan  bukan  dari  kelompok   Goliat  Tabuni. Informasi  sementara ya. Saya  nggak memastikan. Semua  kemungkinan  bisa  terjadi,” ujar  Kapolda Papua Irjen (Pol)  Drs. M. Tito Karnavian, MA ketika dikonfirmasi usai  pertemuan  dengan  insan pers  di  Restoran Bagus Pandang, Jayapura, Jumat (11/1).
Namun  demikian,  ujar  dia,  dari hasil penyelidikan sementara  sudah mengarah kepada satu kelompok  sipil   bersenjata  tertentu. Tinggal melakukan pendalaman   kepada kelompok ini.
Sudah  berapa  pelaku    yang diindentifikasi, kata dia, sementara  pelakunya  tunggal    tapi  bisa  saja  mungkin ada   yang  membantu, mengawasi  memberi informasi. Bisa saja. Tapi  eksekusi  pelakunya  tunggal.
Jenis  senjatanya,   tukas  dia,  dari  saksi mata melihat  senjata  laras pendek.  Sementara  untuk  jenisnya  apa  nanti  kita  akan lihat  setelah  ada  pemeriksaan  forensik.
Sementara itu, kedua  korban masing-masing  Abbas Hadis dan  Praka Hasan telah diterbangkan  dari Mulia ke Bandara  Sentani  menggunakan maskapai  Yajasi pada Jumat (11/1) pukul 10.34 WIT.
“Korban Abbas Hadis langsung  diterbangkan ke  Surabaya  menggunakan Lion  Air. Sedangkan Praka Hasan dari Bandara  Sentani diterbangkan Helycopter Puma ke Lapter  Kodam XVII/Cenderawasih selanjutnya dibawa ke RS  Marthen Indey,”  ujarnya.  (mdc/jir/don/l03)

Penembakan Atas Perintah Goliath Tabuni


Jum'at, 11 Januari 2013 23:06  
 
Gen. Goliat Tabuni bersama perwira TPNPB, Lekagak Telenggen (berdiri kanan) di Tingginambut Desember 2012. (foto:ist)SEMENTARA itu, meski pihak kepolisian belum bisa memastikan siapa pelaku penembakan yang terjadi di Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Kamis (10/1), namun dari  kelompok TPN-OPM mengklaim itu sebagai aksi mereka.  Penembakan yang menewaskan H. Hadis Nito dan melukai Praka Hasan tersebut dilakukan sebagai balasan dari penghinaan yang menurut OPM dilontarkan Bupati Puncak Jaya, Henock Ibo.
Melalui release Pernyataan Resmi TPN-OPM terkait penembakan tersebut, disebutkan bahwa Penembakan terhadap satu Anggota TNI dari Batalyon 753 Nabire dan Seorang Tukang Ojek yang juga anggota Intelejen Indonesia adalah Murni dari TPN-OPM dibawah Pimpinan Komandan Operasi Pos Jambi (Lekagak Telenggen), atas Komando Nasional dibawah Pimpinan Panglima Tinggi TPN-OPM (Gen. Goliat Tabuni).
Pernyataan yang dikeluarkan di Markas Pusat Tinggi Nambut pada tanggal 11 Januari 2013 tersebut ditandatangani oleh Kepala Staf Umum TPN-OPM, Mayjen Teryanus Satto (NRP. 7312.00.00.003) atas nama Panglima Tinggi TPNPB. Isi pernyataan tersebut adalah,
Oleh karena itu TPN-OPM secara Resmi mengeluarkan Pernyataan sebagai berikut:
Pernyataan:
1. Bahwa, Aksi Penembakan ini adalah Murni dari TPN-OPM dibawah Komando Panglima Tinggi Gen. Goliat Tabuni sebagai bentuk pembalasan atas Penghinaan yang telah dilontarkan oleh Bupati Puncak Jaya (Henock Ibo) pada Media Cepos dan Papua Pos;
2. Bahwa, penembakan ini juga sebagai Aksi Penolakan  atas Presmian Kodim 1714 Puncak jaya, Papua belum lama ini;
3.  Bahwa, Penyerangan ini telah dilakukan oleh TPN-OPM murni dibawah Pimpinan Lekagak Telenggen (Komandan Operasi Pos Jambi, Puncak Jaya), atas perintah Panglima Tinggi TPN-OPM (Gen. Goliat Tabuni);
4. Bahwa, TPN-OPM bertanggung jawab atas Aksi ini;
5. Bahwa, Tuan Henock Ibu Segera bertanggungjawab atas pernyataan Penghinaannya terhadap Pimpinan TPN-OPM;
6.  Bahwa, setiap orang Asli Papua jangan coba-coba menghina segenap Pemimpin dan Anggota TPN-OPM yang berjuang,  untuk Hak Politik Menentukan Nasib Sendiri (Self Determination) bagi Bangsa Papua, dan juga jangan menghina Perjuangan;
7.  Bahwa, Bagi Orang Asli Papua yang menghina perjuangan, akan menjadikan Blacklist TPN-OPM;
8.  Bahwa bagi Orang Indonesia (Malayu) yang sipil, yang sedang cari makan di Tanah Bangsa Papua agar anda jangan menjadi mata-mata TNI-POLRI, karena anda akan menjadi target penembakan oleh TPN-OPM;
9.  Bahwa, seluruh lapisan masyarakat yang ada di Papua sekarang wajib memperhatikan poin 6, 7 dan 8 , karena tiga poin di atas adalah berdasarkan Resolusi KTT TPN-OPM di Biak Pada 1-5 Mei 2012 lalu dan akan berlaku di seluruh Tanah Papua;
10.   Bahwa, TPN-OPM siap melaksanakan Revolusi Tahapan dan Revolusi Total guna memperoleh Hak Politik Menentukan Nasib Sendiri (Self Determination) berdasarkan the UN Universal Declaration of Human Rights yang telah di terima dan disahkan pada tanggal 10 Desember 1948, Resolusi PBB 1514 (XV) tentang Decolonisasi, dan the International Covenat on Civil and Polical Rights Aricle 1 Paragraph 1, 2 & 3 yang telah di terima dan disahkan dalam Sidang Majelis Umum PBB pada tanggal 16 Desember 1966, serta the United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples yang telah di terima dan disahkan Dalam Sidang Majelis Umum PBB pada tanggal 13 September 2007.
Markas Besar TPNPB juga melampirkan foto Lekagak Telenggen dan Gen. Goliath Tabuni di Markas besar TPNPB di Tinggi Nambut, Mulia, Puncak Jaya. (bom/don/l03)

Sabtu, 05 Januari 2013

Kapolda : Kita Panggil Nggak Mau Hadir, Kita Mau Tangkap Mereka Lawan, Anggota Tembak Membela Diri Dianggap Pelanggaran HAM

Jumat, 04 Januari 2013 10:46

Polda Papua “Putar Otak” Hadapi Kelompok  Sipil  Bersenjata



Drs. M. Tito Karnavian, MA
Drs. M. Tito Karnavian, MA
JAYAPURA—Polda Papua harus ‘putar otak’ untuk menghadapi dan menangkap kelompok sipil  bersenjata  yang  bergerlya  keluar masuk hutan di  sejumlah  daerah di  Papua.   Ini bukan pekerjaan gampang, pasalnya, kelompok sipil bersenjata   ini  tak bisa ditangkap   sama   seperti  pelaku kriminal lainnya. Butuh cara dan penanganan sendiri.
“Seperti  tersangka  di Pirime. Kalau  boleh  kita  panggil , supaya  datang ke Polda atau  ke Polres. Tetapi nggak  mau  hadir. Begitu kita  mau tangkap  mereka  lawan bahkan menembak. Begitu kemudian  anggota  membalas dengan alasan membela diri  dianggap pelanggaran HAM,” ujar Kapolda Papua Irjen (Pol) Drs. M. Tito Karnavian, MA ketika menyampaikan Press Release  Analisa  dan Evaluasi  Sitkamtibmas di Papua  di Mapolda Papua,  belum lama  ini.
Saat ini kata Kapolda pihaknya hanya berupaya melakukan   penebalan jumlah aparat  keamanan, khusunya di  beberapa wilayah yang dianggap rawan. Seperti di Pirime penebalan  aparat dilakukan dengan menambah Brimob 120 personil didukung  TNI 30 personil total 150 personil. 
“Itu baru kawan-kawan yang diatas mikir. Mau  nyerang bunuh diri,”  tukasnya.
Langka   berikutnya  yang dilakukannya,  lanjutnya,  berupaya  mememenuhi peralatan , seperti  Polisi  di Tiom dilengkapi pakaian anti peluru sebanyak  15  personil   dan  aktif melakukan penggalangan kepada kelompok-kelompok sipil  bersenjata  agar tak melakukan aktivitasnya.
“Sementara  anggota kita perkuat disana. Kalau  kita lepas, nanti mereka jadi korban. Ini  langka-langka  kita yang paling utama. Dari  pihak kita berupaya untuk melakukan deteksi kira-kira dimana  target serangan mereka  dan kemudian kita melakukan penebalan,  memberikan perlengkapan  serta  memberikan perbantuan kepada mereka,”  tukas dia.